Kepada Siapa Media Tunduk. Dialah Yang Akan Rakyat Percaya !! Rusia atau Ukraina?!

american flag with rolled dollar bills
Bagikan Artikel Ini :

Ketika perang di ukraina terjadi secara perang militer, ternyata ada perang lain di udara yaitu perang narasi di media dan di sosial media, hal ini di sebut INFORMATION WAR (perang informasi), sama dengan yang di indonesia, masa kampanye masih lama untuk jadi pejabat puncak di perpolitikan pillpress, masih satu setengah tahunan lagi masa kampanye tersebut, namun di media sudah terjadi perang informasi tentang siapa jagoan yang pantas, dan siapa jagoan yang tidak pantas dan siapa yang ingin perpanjangan jabatan, terus di mainkan di media.

Kita kali ini akan membicarakan mengapa barat dan sekutu adalah pengendali informasi dunia, dan saat ini mereka mengatur informasi masuk ke kepala anda para sahabat semua di seluruh dunia.

Kembali ke ukraina sebagai contoh, dimana media barat mengatakan pasukan putin diperalukan oleh ukraina, lebih dari 10 ribu lebih tentara rusia terbunuh oleh ukraina, sementara pihak rusia mengklaim sebaliknya, hanya 500 tentara rusia korbannya, media barat menyebutkan ukraina berhasil menghancurkan 300 tank rusia, sementara rusia mengatakan telah menghancurkan 900 tank ukraina.

Intinya media barat menyokong informasi kepada rakyat ukraina dan dunia bahwa ukraina berhasil mempertahankan tanah air mereka, sementara rusia menginformasikan kepada rakyatnya, pasukan pembebasan rusia berhasil menakklukkan sepertiga wilayah timur ukraina yang membuat tanah air rusia akan terlindungi dari serangan agresi nato.

Sebenarnya berapa besar korban perang dan tingkat kerusakan selama perang di ukraina hingga saat ini?, tidak ada yang tahu pasti, tidak ada wartawan di media yang dapat memastikan kejadian yang tepat jumlahnya, tidak ada observer mandiri yang independen dimedan perang saat ini.

Kita tidak tahu mana informasi yang di filter, mana informasi yang di modifikasi, terutama di sosial media, sosial media itulah level fieldnya berbeda, karena sosial media tidak lagi netral.

Kita membicarakan big giant raksasa media sosial seperti: Twitter, Facebook, Google, Apple dimana mereka mengambil posisi bersekutu dengan pihak barat, mereka hanya memperbolehkan narasi yang sejalan dengan barat dan batas informasi yang berlawanan dengan barat.

Sungguh raksasa teknologi ini telah salah memperlakukan kenetralan media menjadi mengambil posisi sesuai dengan stakeholder mereka, sehingga media dunia berada di dalam satu sisi pandang, yaitu maunya barat, mereka menjadi penghakim, mana yang boleh di sharekan dan mana yang tidak boleh di sharekan, sehingga dapat di pastikan ketika amerika yang menjadi negara agresor, apakah amerika dikatakan menjadi penjahat perang.

Ketika amerika menginvasi negara lain apakah para raksasa teknologi tadi juga akan menghujat amerika dan memberikan sanksi kepada amerika, tahukah anda berapa negara yang telah di invasi amerika atau ada amerikanya sedang bertarung di sana saat ini?, dari 193 negara yang di akui pbb, amerika pernah dan lagi melakukan invasi di 84 negara, dan tidak ada satupun intervensi amerika tersebut dikatakan seperti apa yang rusia lakukan ke ukraina sebagai tindakan yang salah, dan tindakan kriminal terhadap kemanusiaan oleh giant tech media tersebut.

Yang mau kita katakan kali ini adalah kemunafikan raksasa media ini karena ternyata mereka dibayar untuk memihak, mereka tidak murni dan ambil posisi ke yang bayar, yang para raksasa teknologi media tersebut misalnya di tahun 2021 mendapatkan keuntungan yang sangat besar dalam mempromosikan amerika war on terror, kampanye anti teroris dan melebel teroris oleh amerika kepada dunia, terutama google, facebook, microsoft dan amazon, mereka semua dibayar sekitar 44 billion dollars atau hampir seperempat APBN indonesia dari pentagon dan dari us homelands security untuk mendapatkan akses database penyidikan personal data hingga penyebaran narasi propaganda.

Informasi itu menarget langsung hati dan pikiran dari para pengguna media sosial tersebut, bayangkan ada 2,7 milyar manusia setiap hari menggunakan facebook, instagram, 206 juta manusia menggunakan twitter setiap harinya misalnya, dan lihat betapa dahsyatnya efek manipulasi data tersebut didalam mengendalikan pembicaraan pengguna di sosial media di semua platform raksasa teknologi ini.

Para raksasa teknologi informasi tadi saat ini banyak memperkerjakan dan bekerjasama dengan kementrian pertahanan amerika departemen dalam negri homelands security, NSA nasional security agency. dan fbi nya departemen kehakiman amerika, ada jored cohen, dan state departemen atau kementrian luar negri sebagai ketua kebijakan internasional sekarang dia aktif juga di google, untuk counter terrorism tool, ada steve pantelides bekerja di fbi selama 20 tahun sekarang juga aktif sebagai direktur security di amazan, ada joseph rozek bekerja di kementrian pertahanan amerika dan saat ini bekerja di microsoft sebagai direktur homelands security, ini hanya sedikit nama yang di ekspos namun ada ratusan nama orang penting lainnya berada di raksasa teknologi.

Semua itu di pake untuk memuluskan pemahaman manusia di seluruh dunia akan nation inteerest nya amerika dan barat adalah kebenaran hakiki, adalah pahlawan dunia, dan ini semua untuk kebaikan manusia dimana kita tahu ada sebuah quote yang mengatakan, siapa yang mengendalikan informasi, dialah pengendali dunia, itulah tunuannya, mengendalikan informasi saat ini.

Sahabat menimbang dan memperbanyak merenung, adalah salah satu cara agar kita tidak termakan propaganda yang bisa memecah bangsa dan negara kita ini, seperti banyaknya narasi kebencian dan pemujaan terhadap satu sisi, dan sisi lainnya yang kita harus pilah.

sumber : //www.youtube.com/watch?v=rdQWd4aGsdE

Kepada Siapa Media Tunduk. Dialah Yang Akan Rakyat Percaya !! Rusia atau Ukraina?!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.